Berkenalan Dengan Joker Melalui Perspektif Psikologi
Pada
tanggal 2 Oktober 2019 sebuah film garapan rumah produksi warner bross pictures
tayang serentak di bioskop indonesia. Film yang di sutradai oleh Todd Phillips ini
menyajikan cerita asal muasal musuh utama batman yakni Arthur Fleck yang kemudian
mengubah namanya menjadi joker. Sang aktor, Joaquin Phoenix berhasil memerankan
tokoh Arthur Fleck yang dikisahkan sebagai seorang komedian kelas bawah di kota
Gotham yang mengalami banyak sekali penindasan sampai ia berubah menjadi sosok penjahat
kejam yang tega membunuh banyak orang.
Setelah
film ini ditayangkan di bioskop di Indonesia banyak sekali orang yang berempati
terhadap kehidupan tokoh joker yang sangat menyedihkan hingga ia berubah
menjadi pangeran kegelapan atau juga dikenal sebagai supervillain. Rasa empati mereka ditunjukkan dengan banyak slogan atau
kalimat-kalimat pembenaran terhadap apa yang telah dilakukan oleh tokoh joker yang
akhir-akhir ini sering bermunculan di dunia maya yaitu orang
jahat terlahir dari orang baik yang tersakiti.
Film
ini tidak hanya membangkitkan rasa empati yang dimiliki oleh penonton akan
tetapi juga memicu perdebatan dikalangan netizen
bahkan psikolog pun banyak angkat bicara mengenai film ini, pasalnya film
ini tidak disarankan untuk di tonton oleh orang yang memiliki riwayat kesehatan
mental yang kurang baik apalagi tontonan untuk anak-anak karena akan sangat
berpengaruh terhadap kesehatan mental mereka. Melihat fenomena tersebut, artikel
sederhana ini akan membahas tentang kehidupan yang dialami oleh tokoh komedian
Arthur fleck yang kemudian merubah dirinya menjadi sosok joker dari sudut
pandang psikologi.
Mari
kita berkenalan dengan istilah atau keadaan psikologis tokoh joker yang
dimunculkan dalam film berdurasi 122 menit ini :
1. Pseudobulbar Affect (PBA)
Dalam
film joker kita akan melihat Arthur Fleck seringkali tertawa dalam kondisi yang
tidak sesuai dengan keadaan yang seharusnya ia alami dan bertentangan dengan
suasana hatinya. Tawa patologis yang ia derita membuatnya kesulitan untuk
mengendalikan diri agar berhenti tertawa. Pada satu waktu ketika dia sedang berada
di dalam bus penyakit yang ia derita kambuh sehingga ia harus mengeluarkan
kartu yang berisikan penjelasan bahwa dia sering mengalami tawa patologis yang
tidak dapat ia kendalikan kepada penumpang bis yang merasa terganggu dengan
tawanya tersebut.
Penyakit
yang diderita oleh Arthur Fleck ini dinamakan dengan Pseudobulbar Affect (PBA)
dimana penyakit ini merupakan gangguan pada sistem saraf yang membuat seseorang
tertawa atau menangis tanpa dipicu oleh sebab apapun.
Gejala
yang biasa dimunculkan oleh penderita PBA ini adalah tiba-tiba menangis atau
tertawa, tawa atau tangis yang dialami berlangsung dalam waktu yang lebih lama
dari orang normal pada umumnya, ekpresi wajah tidak sesuai dengan emosi yang
sedang di alami seperti tertawa keras saat merasa sedih atau tertekan dan
menangis di saat gembira.
Jika
kita perhatikan lebih mendalam lagi tentang masalalu Arthur Fleck dalam film
joker ini kita juga bisa mengaitkan dengan keadaan alam bawah sadar yang
terbentuk sejak ia kecil dimana ia di asuh oleh figur otoriter seorang ibu yang
mengidap penyakit jiwa yang seringkali memberikan doktrin kata happy agar Arthur Fleck kecil selalu
tersenyum dan tertawa bahagia dalam kondisi apapun. Hal ini juga dapat
dikatakan menjadi salah satu faktor mengapa tokoh joker dapat mengalami
penyakit tawa patologis yang di namakan dengan Pseudobulbar Affect (PBA)
2. Depresi
Dapat
dengan jelas kita lihat dalam film ini tentang perjalanan hidup Arthur fleck
yang mengalami banyak sekali permasalahan baik dalam sudut pandang sosial
termasuk didalamnya benturan antar kelas ekonomi dan politik juga masalah
kesehatan mental yang dialami oleh sang tokoh.
Sebelum
mengubah identitas menjadi seorang joker, arthur fleck digambarkan sebagai
seseorang yang dirundung berbagai masalah, dimarjinalkan, mendapat kasih sayang
palsu, merasa tidak di inginkan, serta merasakan kekurangan cinta dan apresiasi.
Serangkaian peristiwa tersebut kemudian tersimpan dalam alam bawah sadar sang
tokoh supervillain ini dan menyimpan
memori kesedihan mendalam sehingga ia mengalami depresi berat yang merubah
dirinya menjadi sangat berbeda dari dirinya yang sebelumnya.
Pengertian
dari depresi sendiri adalah gangguan kesehatan mental yang berkaitan dengan
suasana hati dan baru dapat didiagnosis sebagai gangguan depresi jika gejalanya
bertahan selama setidaknya dua minggu atau lebih dan mengganggu aktivitas
sehari-hari.
Dalam
buku panduan DSM-5 ada sembilan jenis kategori depresi dan salah satu jenis
depresi yang sesuai dengan tokoh yang digambarkan oleh arthur fleck ini adalah
depresi psikotik. Depresi Psikotik adalah jenis depresi berat yang sangat parah
yang pada akhirnya dapat memunculkan beberapa bentuk psikosis seperti
halusinasi (melihat atau mendengar hal-hal yang sebenarnya tidak ada), delusi
(keyakinan yang salah), paranoid (selalu berpikir bahwa orang lain akan
menyakitinya)
Di
film ini kita akan melihat banyak peristiwa yang sebenarnya tidak benar-benar
dialami oleh sang tokoh dalam kehidupan nyata karena peritiwa tersebut hanya
dialami oleh sang tokoh melalui halusinasi dan delusi yang di deritanya.
Penyebab
dari depresi sangatlah bervariasi karena banyak faktor yang mempengaruhi
seperti faktor keluarga, trauma masa kecil, kondisi medis, struktur otak,
penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan alkohol serta banyak faktor lainnya
yang dapat menjadi penyebab depresi.
3. Gangguan Kepribadian Antisosial
Gangguan
kepribadian antisosial adalah sebuah gangguan kepribadian yang ditandai oleh
perilaku yang tidak mempedulikan atau melanggar hak asasi orang lain secara
berkepanjangan dengan ciri-cirinya adalah rasa moral dan nurani yang rendah
serta perilaku kriminal, impulsif dan agresif.
Tokoh
joker dalam hal ini secara jelas menggambarkan tentang sikap pengabaian
terhadap norma sosial yang berlaku. Joker juga menunjukkan tindakan
kriminalitas yang membuat seisi kota Gotham menjadi tidak aman.
Sang
tokoh dalam film ini, terus menerus menentang norma sosial yang ada dengan
melakukan tindak kriminal secara terus menerus tanpa rasa bersalah dan tidak memperdulikan
norma serta hak asasi orang lain.
4. Motif
Dalam
ilmu psikologi, motif dapat diartikan sebagai rangsangan atau dorongan yang terjadi pada diri individu yang dapat menggerakkan
atau membangkitkan individu tersebut untuk berbuat sesuatu.
Semua
tingkah laku manusia pada hakikatnya memiliki motif. Begitu juga dengan tokoh
joker yang memliki motif yang mendasari ia melakukan banyak tindakan yang sudah
ia lakukan. Beberapa pembunuhan yang dilakukan oleh joker didasari oleh motif
ingin melindungi diri sendiri, membalaskan dendam terhadap perilaku bullying yang ia terima, menyingkirkan
orang-orang yang dianggap melukainya baik secara fisik maupun psikis. Tentu
saja motif ini tidak akan pernah dibenarkan untuk dapat melakukan tindakan
kriminalitas yang dilakukan oleh sang tokoh.
Sebagaian
besar tindakan tokoh joker didasari oleh motif ingin membalaskan dendam. Namun,
menariknya dalam film ini ada sebuah scene
yang menunjukkan sisi manusiawi seorang Arthur Fleck, dia membiarkan salah satu
temannya garry tetap hidup dan menjalankan kehidupannya karena ia menilai garry
adalah satu-satunya orang yang benar-benar baik terhadap dirinya sehingga ia
melepaskan temannya tersebut.
Jika
dikaitkan dengan teori motif dalam ilmu psikologi kita akan mengetahui alasan
mengapa seorang arthur fleck tidak membunuh temannya yang bernama garry tersebut
karena ia tidak memilki motif apapun untuk membunuh orang yang tidak pernah
berbuat jahat kepadanya.
Semoga
tulisan ini dapat bermanfaat dan dapat dijadikan pelajaran positif bagi
siapapun yang ingin mengetahui lebih dalam tentang perilaku manusia menurut
ilmu psikologi agar menjadi orang yang lebih baik dan lebih aware terhadap lingkungan sekitarnya.
Kak gimana caranya biar kita bisa terus berfikir positif menurut ilmu psikologi ?
ReplyDeletePertanyaannya bagus sekali nanti dijawab lewat tulisan blog yg baru yaa...
DeleteTerimakasih untuk pertanyaannya 😊